Ini kisahku… Kisah terlarangku

Diadopsi dari kisah nyataku.

Aku cuma wanita biasa dari seorang istri dan seorang ibu.

Seperti biasa kegiatan pagiku rutin aq mulai dengan memasak dan melayani anak dan suamiku. Tiba2 pagi itu aq kedatangan tamu, pdhal pagi itu lumayan aq sibuk beraktivitas sehingga untuk membukan pintu saja aq tak sempat. Akhirnya hubiQ yg bukain pintu, sampe akhirnya aq mendengar hubi teriak sampe kedengeran hingg dapur, “bun… Ada mas roni (sebut aja gt) dateng” teriak suamiku. “Iya yah bentar suruh aja masuk” sahutku!!!

Aq berfkir dlm hati knp mas roni sampe bertamu pagi2 skali???

(Upz sampe lupa, mas roni ini adalah kk iparku, suami dr kakak perempuanku)

Apakah ada hal penting sampe datang bertamu sepagi ini??
Apakah ada keperluan mendesak??? Sehingga btuh pertolongankukah???
Beribu ribu pertanyaan di kepalaku yg harus aku temui jawabannya.

Waktu aq meninggkan masakanku untuk sekejab, untuk menemui mas roni juga untuk menghilangkan rasa kepoku.
“Pa kabar mas roni???” (Sembari salaman)
“Aku baik ndel” ( sahut mas roni)
Rupanya lama tak perjumpa tidak membuat mas roni lupa akan panggilanku si “endel”.

Ternyta percakapan panjang lebar kami di akhiri dengan Permintaan tolong mas roni buat meminjam jasaku untuk mengajari istrinya membuat strimin(semacam jahit menjahit pola) tanpa berfikir aq iyakan permintaan nya toh dia juga kakakQ. Sehingga di buat janjian untuk membeli perlengkapan strimin.

Keesokan nya…

Seperti biasa pagiku di awali dengan rutinitas yg membosankan mulai bangun pagi cuci muka gosok gigi terus cuzz belanja ( biasa mak mak zaman Now gak mau ribet malas mandi pagi). Perjalanan pulang dari belanja seperti ada yang ngikuti dari belakang, ternyata mas roni lah mengikuti sembari tersenyum dia bilang “kok makin tambah kecil aja ndel?”,
” emang bawaan dari orok mas aq uda kecil, emang kenapa???” sahutku.
Seperti aq melihat tanda2 mencurigakan dari pandangannya tapi ah sudah lah aku gak boleh berfikir buruk toh dia kakak ipar aku sendiri.
“Ayo bareng daripada jalan!!!” pintanya
“Aku jalan aja mas, lumayan pagi pagi, hitung hitung olah raga” seraya aq berkata sambil jalan lurus.
Makin kencang jalanku makin cepat laju motor mas roni mengikuti, entah aku merasa ada yang aneh dengan mas roni, seperti bukan mas roni yang aku kenal.

Aku merasa gak tahan di perhatikan seperti itu, akhir nya aku tegur saja “mendingan daripada sampean ngikuti aku seperti itu, sampean duluan deh ke rumahku, mumpun hubiQ ada di depan nyuci motor” aku berkata agak tegas. Tapi rupanya muka masamku tidak lah di hiraukan dengan senyuman kecil dia bilang “enakan ngikutin kamu ndel dari belakang sambil….”.tidak meneruskan ucapannya.
” sambil apa mas???” sahutku
“Gak jadi ndel” sahutnya dengan senyuman yang gak bisa aku artikan.

5 menit kemudian sampai rumahku juga, hubi juga gak merasa kaget aku dateng dengan mas roni, mungkin pikir hubiku masih membahas rencana kemaren pagi soal aq mengajari istri mas roni membuat strimin,
“Masuk mas ron” pintaku
“Iya ndel” sahutnya
Tak lama setelah hubi selesai menyuci motornya, hubi nemani mas roni buat bercakap2 sebentar.

Asyik2 nya hubi dan mas roni ngobrol aq menyela untuk menawari minum
“Ayah minum kopi seperti biasa apa nanti habis sarapan???” tanyaku
“Sekarang lah bund, mas roni sekalian yach bkinin” hubi menjawab dengan asyik ngobrol dengan mas roni
“Mas roni bkin kopi apa teh???” aku tanya
Seperti cuek bebek, seperti gak merhatikan aq yang menawari minuman mas roni jawab “seperti hubi kamu aja sama yah”
Sebel sekali aku sama mas roni ini, sudah 2x berhasil bikin aku kesel
Its ok lah namanya tamu pastilah dimana mana adalah raja

Sesudah aku membuat minuman untuk suami dan kakakQ, aku melanjutkan aktivitasku sebagai seorang ibu, yaitu ndulang si toleku. Sesudah ndulang anak lanang, aku memandikan tak terasa jam nya suamiku berangkat kerja, tapi kok ada yang ganjal ya di pikiranku, OMG!!!! HubiQ belum sarapan karena nemani kakakQ, hadeh aq bingung nyiapin piring, sendok, gelas di meja makan
“Ayah, ayo ndang maem. Mas roni ajak sarapan sekalian” pintaku.
Hubi seperti nya buru buru mengejar waktu yang hampir terlambat ini.
“Bund, ayah berangkat sek yach, soale kalo sarapan gak nutut. Nanti ayah maem di sana aja” jawab hubi.
(Sambil nyodorkan tangan biasa salim hukumnya wajib untuk orang yang sudah berumah tangga)
“Ayah hati2 diluar mendung loh” aku mengingatkan
“Iya bund, yawes bye” (sambil ngusap rambutku). Akhir nya suamiku berlalu dengan motor nya.

Aku kembali masuk ke rumah untuk melanjutkan memasakku untuk hidangan sore, terus rencana berangkat dengan mas roni untuk mencari bahan2 nya untuk membyat strimin.

Entah kenapa aku tidak nyaman dengan tatapan mata mas roni lalu aku hampiri mas roni “dari tadi kalo aku gak salah, mas roni kenapa mandangnya gitu amat??? Apa masih penasaran kenapa badanku kecil???”
Mas roni sedikit blak blakan dari cara bicaranya “enggak ndel, entah kenapa kamu sekarang agak berbeda dari pertama aku kenal dulu, dulu km item loh sekarang agak bersihan yach??”

“Ojok macem2 mas?? Aku adek iparmu loh?? Lagian kenapa bukan mbak putri ( mbak putri istri dari mas roni) aja yang kesini kan lebih enak daripada sampean!!!” jawabku sekarang yang agak ketus

“Kok putri seh ndel seng kamu cari???, kenapa bukan mas? Padahal mas kangen loh ma kamu!!” sambil mendekat ke arah aku yg sedang maksa.

“Wes mas, jangan mulai. Wes tak omong aku ini adekmu loh kok ngomongnya gt???” agak menggeser sambil mempercepat speedku memasak

“Tau gak seh, aslie putri pengen kesini, tapi aku yang larang biar aku bisa samperin kamu” ujar mas roni sambil senyum tipis.

(Bersambung… )