Hujan Turun, Yang

MILIK IBU MERTUAKU BASAH KUYUP

PADAHAL bukan musim hujan. Sekarang baru bulan Juni. Tiba-tiba byuuu…uuurrr… air hujan seperti ditumpahkan dari langit.

Pengendara sepeda motor kalang kabut masing-masing mencari tempat untuk menyelamatkan diri, termasuk aku dan ibu mertuaku yang baru keluar dari rumah sakit belum setengah jam yang lalu menengok adiknya yang kemarin operasi usus buntu.

Beruntung aku dan ibu mertuaku mendapat tempat berteduh di sebuah ruko yang sudah tidak terpakai.

Aman, pikirku karena pakaian ibu mertuaku kulihat hanya basah sedikit, sedangkan aku hanya basah di celana jeansku saja, sedangkan kaosku aman, karena aku memakai jaket.

Tiba-tiba dhuuuuaaa…aarrrr… petir menyalak suaranya seperti bom atom meledak disertai suara gemuruh halilintar seperti lidah api yang ingin menyambar kami.

IM : Awwwh… Mirin, Mama takut…

Ibu mertuaku mendekatkan dirinya padaku. Mula-mula kutolak.

A : Nggak usah takut, Ma… nggak apa-apa…

Tetapi suara menggelegar itu tidak hanya sampai di situ saja. Belum satu detik berhenti, meledak lagi. Dhuuuuuaaa…aaarrr…. disertai cipratan nyala api….

Kali ini akupun merangkul pinggang ibu mertuaku lalu menariknya dalam dekapanku.

Siapa yang mau iseng memperhatikan kami, di tempat yang gelap begitu pula dan sudah hampir jam 8 malam, hujan deras pula.

Dhuuuaa…aarrr… berikutnya, aku bukan ingin melindungi ibu mertuaku lagi, melainkan aku terangsang dengan payudaranya yang besar yang tergencet di dadaku, apalagi ibu mertuaku belum tua, baru 44 tahun lebih sedikit dan masih punya anak kecil yang sekolah di SD kelas 5, adik dari istriku.

Setelah petir tidak menyambar hanya hujan saja yang masih deras ibu mertuaku baru menyadari dirinya.

IM : Sudah ah, lepaskan Mama, jangan seperti disengaja, kalau ada tetangga lewat malu kita kalau dilaporin ke rumah.

A : Biarin aja, kecuali kalau kita berbuat mesum, kan nggak…

IM : Siapa berani jamin nggak, laki-laki dimana-mana sama saja.

A : Karena Mama merasa sexy ya, lalu takut sama aku, uugghh… gampang Ma.. kalau aku mau mencari wanita, untuk apa aku sama Mama…

IM : Kenapa kita jadi cekcok sih…

A : Mama juga sih sok suci…

IM : Mama bukan sok suci, Mirin… Mama hanya jaga-jaga, mulut orang siapa yang tau… kalau kita lagi ketemu sial… kamu kedinginan, Rin…? Mama dingin sekali…

A : Ini… jaket… Mama pakai saja…

Aku melepaskan jaketku.

IM : Kamu pakai apa nanti…?

A : Aku nggak apa-apa, untuk Mama saja…

Aku membantu ibu mertuaku memakai jaket parasutku yang dulu kubeli di London waktu bulan madu dengan istriku.

Ibu mertuaku memandang aku. Aku sengaja mendekatkan bibirku.

IM : Mama ngomong apa tadi, sengaja kan kamu…?

A : Aku kan ngomong Mama sexy, apa saya salah?

IM : Mmm… cium aja, tapi lihat sekeliling dulu, nggak ada orang baru cium…

Haaa… aku tertawa dalam hati. Mula-mula ia jual mahal, akhirnya banting harga.

 

Saat kucium bibir ibu mertuaku, kucium tidak hanya sekedarnya, kulumat bibir tipis itu sembari kudorong lidahku masuk ke dalam mulutnya sampai ia menghisap lidahku, lalu aku meremas payudaranya dengan memasukkan tanganku ke dalam jaketnya.

Ploo…ooopp… ibu mertuaku menarik lepas bibirnya, lalu lenganku dipukulnya, plaa…akk…

IM : Menyesal Mama kasih kamu cium…

A : Masih kenyal…

IM : Kepalamu… masih kenyal… ini mertuamuu…uuu…

Hujan sudah rintik-rintik, di jalan sudah ramai kembali dengan kendaraan.

A : Yang ngomong Mama itu tanteku siapa… kan aku menghormati Mama… nggak ngejelek-jelekin Mama…

IM : Sudah ah, hujan sudah reda, pulang kita…

A : Cium lagi ya, kan nanti di rumah nggak bisaa… masing-masing ada pengawasnya…

IM : Tapi jangan remas lagi, ya…

A : Kok Mama yang ngatur sih… terserah aku dong… kalau aku mau…

Segera kupeluk ibu mertuaku dan melumat bibirnya lagi dan sekarang ganti lidahnya yang memancing birahiku, sehingga tanganku pun merogoh kaosnya, lalu mendorong naik cup BH-nya seraya kugenggam teteknya yang montok itu dan meremasnya dengan napsu yang menggebu serta gemas.

Ibu mertuaku menggigit bibir bawahku. Tubuhnya bergetar dan menegang ketika jariku memuntir putingnya.

IM : Ah… kamu iseng… jadi keluar kan…?

A : Nggak mau, dikeluarin…?

IM : Basah kuyup… jadi nggak enak di dalam tau…, becek… kamu sih, ada-ada saja… Mama sudah ngajak kamu pulang cepet biar keluarinnya di rumah, malah di sini… ayo kita pulang sekarang…!

 

Ibu mertuaku masih memakai jaketku dan sekarang ia memeluk erat aku dari belakang saat sepeda motorku meluncur di jalan raya menerjang hujan rintik-rintik dan jalan yang basah.

Karena sudah malam, karyawan yang pulang kerja juga sudah banyak yang sampai di rumah, jalan raya mulai sepi dan lagi pula rumah mertuaku bukan terletak di jalan utama, melainkan di perumahan yang sudah berdiri lama, sehingga tidak sampai 40 menit kendaraanku sudah sampai di rumah.

Bapak mertuaku juga sudah pulang kerja dan sedang nonton debat capres.

IM : Sudah makan, Pa…?

Ibu mertuaku duduk di samping suaminya setelah melepas jaket.

IM : Kamu mandi dulu deh, Rin… Mama masih capek…

BM : Bagaimana kondisi Yuli…?

IM : Kalau sudah dioperasi usus buntunya ya sudah sehat, tadi sudah bangun ngajak ngobrol…

Aku pergi ke kamar mandi tidak mendengar pembicaraan mertuaku. Aku dan istriku bukan tinggal di sini, tetapi di seberang kompleks mertuaku, jadi kami sering ke sini, kadang pulang kerja makan di sini, sehingga aku punya handuk untuk mandi.

Ibu mertuaku mengetok pintu kamar mandi. Katanya tadi ia menyuruh aku mandi duluan, tetapi sewaktu aku membuka pintu kamar mandi ia hanya memakai BH dan celana dalam.

Karena kamar mandi terletak di belakang, bapak mertuaku tidak tau istrinya masuk ke kamar mandi bersamaku.

Setelah mengunci pintu, tanpa sungkan dan malu dengan aku, ibu mertuaku langsung melepaskan BH dan celana dalamnya di depanku.

Semproters jangan membayangkan tubuh ibu mertuaku masih indah.

Tubuh ibu mertuaku sudah tubuh ibu-ibu, apalagi tidak dirawat, teteknya menggantung, namun masih montok berisi. Perutnya agak sedikit membesar dan di bawah perutnya terdapat rambut hitam kasar yang cukup rimbun.

Dengan tidak sabar lagi aku ingin segera menikmati rasa memeknya. Aku duduk di penutup kloset menarik selangkangan ibu mertuaku ke penisku yang berdiri tegang.

Sambil mengangkang di pangkal pahaku kedua tangan ibu mertuaku memegang ke bahuku sementara aku memasang batang penisku ke lubang vaginanya.

Setelah ia siap, iapun menurunkan selangkangannya, sehingga batang penisku perlahan menyusup masuk ke lubang yang pernah melahirkan istriku 21 tahun yang lalu itu.

Sleepp… sleepp… sepertinya lubang itu sudah jarang dipakai, karena ketat dimasuki oleh batang penisku, ataukah batang penisku yang besar, he.. he…

Setelah benar-benar sudah bersatunya kelamin kami, langsung ibu mertuaku memompa penisku naik-turun dari atas sambil aku meremas kedua teteknya secara bersamaan.

IM : OOHHH…. SSSTTTH… OOOHHH…. NGGGHH… ENAK, RIN… UUUGHH… OOOHHH… BANTU MAMA, RIN… KOCOK DARI BAWAH…

Penis tegangkupun menyundul-nyundul rahim ibu mertuaku dari bawah. Lubang memek itu mulai basah dan licin.

IM : OHHHH…. UUUGHHH… OOOHHH…. NGGGGHH… NNNGGHH… OOOHHH… AHHH… OOOHHH… OOOHH…

Nikmat masih terasa oleh penisku meskipun lubang itu sudah pernah melahirkan 4 orang anak, sehingga gerakanku tidak bisa bertahan lama, juga masih baru, masih penasaran dengan lubang itu, lalu meluncurlah air maniku dari lubang penisku menedang kuat ke rahim ibu mertuaku,

CRAAATTTTTTTT…. CRROOTTT…. CRROOOTTT… CRROOOTT… nikmat, sayang memekmuuu… lenguhku… ibu mertuaku duduk diam di pangkuanku membiarkan butiran spermaku terus menembak ke rahimnya… CRROOTTT… CRROOOTTT… CRRROOOTTT… CRROOOTTT…

Begitu nikmat rasanya sampai menjalar ke seluruh tubuhku sehingga tubuhku rasanya lemas tak bertulang, tapi puas, maka rasanya aku ingin mengulanginya lagi.

Sambil mandi ibu mertuakupun mengurut penisku dengan sabun mandi untuk menegangkannya kembali.

 

Tiba-tiba pintu kamar mandi dibuka, sepertinya tadi sudah dikunci oleh ibu mertuaku. “Ugghhh… Mama… Kakak… berduaan…” kata Meity, adik istriku yang ke kamar mandi ingin kencing.

Ibu mertuaku tidak sempat lagi melepaskan penisku yang diurutnya, dipegangnya begitu saja tanpa ia merasa takut dengan Meity, sedangkan jantungku berdegub-degub kencang.

Takutlah… kalo Meity lapor ke papanya. Kan Meity sudah gadis, sudah 19 tahun, udah mengertilah dia dengan yang begituan.

IM : Sudah, kalo mau kencing…

Meity masuk ke kamar mandi menurunkan celananya dan pada saat yang bersamaan aku bisa melihat selangkangan Meity yang mulus putih itu juga berhiaskan rambut kasar hitam yang lembat, lalu Meity duduk kencing di kloset tidak mempedulikan mamanya dan aku yang sedang telanjang bulat.

Setelah selesai ia kencing, tanpa siram lubang kloset, ia menaikkan celananya langsung pergi.

IM : He… gak cebok…

M : Memang Mama pernah cebok kalo kencing…?

Maka itu Meity berani dengan mamanya!

Setelah Meity pergi, ibu mertuaku benar-benar mengunci pintu kamar mandi, lalu menghadapkan pantatnya untukku sambil kedua tangannya berpegangan pada pinggir bak di depannya.

A : Ini boleh, Ma…?”

Tanyaku sambil jari tengahku menusuk lubang anus ibu mertuaku.

IM : Pelan-pelan ya…

Peniskupun kutaruh menempel di depan lubang anus ibu mertuaku yang berkerut berwarna hitam. Bisa jadi penis bapak mertuaku belum pernah, aku yang pertama kali memerawani lubang anus istrinya.

Pelan-pelan penisku yang tegang menusuk masuk ke lubang anus ibu mertuaku. Lubang yang terasa lembut tak bertulang itu rasanya nikmat juga saat penisku tenggelam semua di dalam.

Setelah itu kedua tanganku maju ke depan menggenggam susu ibu mertuaku yang menggelantung di dadanya, lalu mulai kutarik penisku dorong-tarik-dorong-tarik-dorong… hufff… nikmat sekali pada saat kepala penisku menggesek-gesek lubang sempit itu, apalagi sambil kuremas-remas teteknya yang montok dan masih berisi.

Setelah beberapa saat kugesek, lalu kupindahkan penisku ke lubang vagina ibu mertuaku. Aku menginginkan ibu mertuaku hamil anakku, karena sudah 8 bulan aku mengawini anaknya, aku belum berhasil menghamili anaknya.

IM : Ini baru enak, sayang.

A : Apakah Mama nggak takut ketahuan Papa? Kan Meity sudah tau kita telanjang berdua di sini?

IM : Ah… sudah, teruskan saja…

Kalau tadi misalnya hanya hujan saja tidak ada petir belum tentu aku bisa menyetubuhi ibu mertuaku seperti sekarang ini.

Memang sudah jodohku barangkali, maka itu terus kusodok lubang vagina ibu mertuaku yang basah dan becek itu lebih kencang.

Hingga pada akhirnya tubuhkupun mengejang dan dialiri rasa nikmat yang tak terkatakan ke seluruh tubuhku.

Kupeluk ibu mertuaku dari belakang dengan lebih erat sambil kutekan penisku sedalam mungkin ke dalam lubang vaginanya supaya air maniku kalau keluar bisa menembak ke rahimnya.

IM : AHHHH… AAAHHH…. AAAHHHH… NGGGHH… AAAHHHH…

A : OOOGGGHHH….

Aku membalasnya sambil kuloncrotkan air maniku ke rahim ibu mertuaku tersayang.

Crroottt… ccrrooottt… crroottt… crroottt… crroott… aahhh… crroott… crroottt….

Air maniku keluar sama banyaknya dengan yang pertama kali dan sama garangnya. Aku berharap ibu mertuaku benar-benar hamil dari hasil persetubuhanku dengannya malam ini.

Aku dan ibu mertuaku keluar dari kamar mandi, televisi sudah dimatikan dan bapak mertuaku sudah tidak kelihatan duduk di tempatnya.

Bukannya aku tidak gentar menghadapi bapak mertuaku. Penyesalan dan kepanikan biasanya datang belakangan.

Aku langsung kabur dengan sepeda motorku setelah berciuman dengan ibu mertuaku di depan rumah.

Aku sampai di rumah, pintu rumah belum di kunci, karena istriku masih nonton televisi sambil berbaring di sofa.

Aku melihat istriku jadi berbeda, di wajahnya terbayang wajah mamanya.