DETERMINATION

Halo Para Sesepuh dan Suhu t, Setelah Lama koko menjadi Silent Reader, koko memberanikan diri untuk membuat Karya koko sendiri, dengan harapan bisa menghibur, dan berkenan. Dan semoga melalui cerita ini bisa terjalin silaturami yang baik antar Reader.

Koko sangat terbuka, silahkan berikan Kritik jikalau kurang berkenan di hati Reader, koko akan berusaha memperbaiki diri lebih baik lagi. Koko kali ini ingin belajar membuat cerita perjalanan hidup koko yang menurut koko cukup menarik dan koko tambahkan sedikit imajinasi yang muncul ketika koko menulis cerita ini, segala karakter di cerita ini namanya koko samarkan demi menjaga privasi koko dan orang yang terlibat di dalam RL, semoga cerita ini bisa menghibur dan menginspirasi Reader..

Kerja keras adalah salah satu cara yang terpikir dalam otakku, untuk merubah nasib

dalam kehidupanku.

Setelah aku merasa dilecehkan, bahkan dianggap remeh oleh calon mertuaku.

Calon mertuaku dengan jumawa, memutuskan sepihak hubungan pacaran kami, yang telah kami bina selama 8 tahun.

Ya, inilah kisahku.

Perkenalkan namaku Geraldo William, biasa di panggil Apheng

Apheng adalah nama cinaku, “No SARA”.

Ya benar, aku berasal dari keluarga keturunan tionghoa. Namun, aku adalah anak negeri ini juga, karena di sinilah aku hidup dan besar. Hidup di negara dengan berbagai kemajemukannya.

Keluarga besar kami, sudah lama tinggal di negeri ini. Mulai dari jaman kakek dan nenek buyutku, berganti kekek dan nenekku, hingga ke bapak dan ibuku pun, sudah lama tinggal di Indonesia.

Bahkan, Bahasa Indonesia-ku lebih lancar dari pada bahasa mandarin.

Saya terlahir dari keluarga kecil, terdiri dari Bapak, Ibu dan 3 orang anak.

Aku adalah anak tertua dan cowok satu-satunya di keluarga kami, 2 orang adikku adalah perempuan.

Keluarga kami adalah keluarga yang cukup secara ekonomi atau dikategorikan secara ekonomi sebagai kelas menengah, tidaklah kaya tetapi juga tidaklah miskin.

Bapak dan ibuku hanya seorang pedangang kecil, yang berjualan makanan di pasar.

Sementara keluarga tunanganku, berasal dari kalangan atas. Dia adalah anak seorang pengusaha perkebunan yang memiliki lahan sekitar 2000 ha dan merupakan juragan sawit di daerahku.

Inilah kisahku!!!

Inilah kisah perjalanan jatuh bangun hidupku!!!

Dan sekaligus perjalanan pahit manisnya percintaanku!!!

Episode 1. Pertemuan

Diana Susanti, ya itulah namanya. Seorang gadis cantik keturunan Tionghoa sama seperti aku, yang biasa di panggil Aling

Aku dan Aling adalah teman sekolah sejak SD hingga SMA. Sebenarnya aku sudah mengenal Aling sejak kecil, karena aku dan Aling selalu satu sekolahan.

Pada umumnya, pada saat itu orang keturunan lebih cendrung memilih untuk menyekolahkan anaknya di sekolah swasta.

Dari jumlah keseluruhan siswa dan siswi sekolah swasta, 80% adalah anak-anak keturunan Tionghoa juga.

Mungkin karena orang tua lebih membatasi pergaulan anak-anaknya, dan lebih suka anak-anaknya bergaul dengan sesama anak-anak keturunan lainnya, pasca insiden Mei 1998 (Sekali lagi “No Sara”).

Insiden Mei 1998 adalah pil pahit bagi negara kita Indonesia. aku lahir di Indonesia dan aku cinta Indonesia, marilah kita hidup bersama dalam keberagaman yang ada di Indonesia, terlepas dari Suku, Agama, Ras dan Antar golongan.

Tetapi, hidup sebagai manusia yang sama, tanpa ada superioritas di antara kita, karena kita adalah sama.

Sedikit fakta menarik. Indonesia adalah Negara yang memiliki penduduk keturunan Tionghoa di luar Cina terbesar di dunia dengan 7.67juta jiwa penduduk.

Aku sangat menghargai perbedaan.

Bahkan, istriku sekarang adalah orang Indonesia asli dan beragama muslim. Dan sekarang, kami hidup bersama dalam perbedaan kami masing-masing.

Aku selalu mendidik anakku, bahwa dia bukan orang Tionghoa, tetapi orang Indonesia dan aku membebaskan pergaulan anakku sekarang.

Ya, nanti akan kuceritakan satu per satu perjalananku, sampai sekarang.

Sejak kecil, aku sudah memiliki ketertarikan kepada Aling. Dia anak yang berprestasi di sekolah. Tetapi, dikarenakan aku yang sejak kecil tidak pernah merasakan fasilitas yang mewah dari orang tuaku.

Sedangkan, dia yang hampir semua keinginannya selalu terpenuhi, membuatku minder untuk mendekatinya.

Aku dengan tinggi 180 dan berat badan proposional dan muka boleh la (untuk ukuran cowok keturunan, uda mirip oppa-oppa korea la), tergolong anak yang pintar dan berprestasi.

Dikarenakan, didikan orang tuaku yang sangat menuntut anak-anak mereka untuk berprestasi.

Mereka tidak ingin, anak-anaknya kelak, harus bekerja keras. Bangun pagi-pagi sekali, dan bekerja sampai larut malam hanya untuk mencari rupiah.

Jadi orangtuaku, mewajibkanku untuk selalu menjadi yang terbaik. Jikalau, gagal. Maka, ada konsekuensi yang mesti kuterima.

Dan untuk hal itu, aku justru bersyukur karena sudah dididik dengan cara yang keras untuk hidup.

.

.

.

Tahun 2000…..

Tahun ini, aku dan Aling duduk di kelas 2 SMA. Dan, kebetulan sekali. Aku sekelas dengannya.

Seperti pada umumnya, hari pertama sekolah. Selalu dilakukan pemilihan stuktur pengurus kelas. Seperti ketua kelas, wakil, sekretaris dan bendahara.

Dan, seperti biasanya. Selalu siswa yang populer, yang terpilih menjadi ketua kelas. Aku yang terpilih menjadi ketua kelas, dan Aling yang menjadi wakilnya.

Pada waktu itu, pihak sekolah setiap tahun selalu mengadakan study tour, untuk siswa/siswi kelas 2.

Dan yang bertugas untuk mengurus study tour adalah ketua kelas dan wakilnya, dari lokal masing masing.

Moment inilah, membuat hubunganku dan Aling jadi semakin dekat, karena mesti terlibat dalam beberapa meeting untuk persiapan study tour.

Siang itu, ketika jam istirahat.

Diana datang menemui dan berkata. “Apheng. Tolong aturin seat di bus, gw ama Ryan sebelahan, dong! Dan kamarnya, yang deketan, biar gampang ketemuan.”

Aku pun bertanya dengan heran. “Pacar elu, ikutan study tour, Ling? Kok bisa, dia kan, anak kelas 3!”

“Ya, gak apa-apa. Ajukan dulu ke guru, dikasih apa ngganya?” jawab Aling memberitahu. “Ntar baru dipikirin nanti jawabnya.”

“Terus gw, dapet apaan?” tanyaku balik. “Kalo bantuin elu, Ling?”

“Ntar. Gw jodohin elu deh, sama Lily.” sahutnya. “Kebetulan dia jomblo tuh, abis di putusin pacarnya. Ntar pas study tour, lu bisa deketin Lily gw bantuin deh.”

Dengan santainya Diana membuka penawaran terhadapku.

“Ya uda. oke, deal.” jawabku setuju.

Aku menyetujui penawaran Diana, dalam hatiku berpikir. “Aku jomblo, dan tidak ada wanita yang menemani. Jelas dengan adanya Lily, seorang gadis keturunan, berparas cantik dan mempunyai toket yang cukup menarik perhatian setiap lelaki, pasti tidak ada yang sanggup untuk menolak tawaran seperti ini.”

Hari berjalan seperti biasa, aku mencoba mendekati Lily, dengan modus agar memiliki pendamping wanita, ketika acara berlangsung.

Segala cara aku lakukan, mulai dari sekedar nanyain kabar, sampai dengan modus memberi contekan, ketika ulangan.

Sampai H-7, SSI atau Speak-Speak Iblis, aku dengan Lily berjalan cukup bagus.

Dan ternyata, Ryan tidak diijinkan ikut study tour. Dengan pertimbangan, Ryan harus persiapan untuk ikut terobosan dan persiapan EBTANAS.

Jelas kabar ini, langsung berpengaruh terhadapku.

Diana kembali datang kepadaku, dan berkata. “Pheng, perjanjian yang kemarin batal. Pacar gw, ga diijinkan ikut study tour bareng kita. Jadi gw mau dengan Lily bersama, menikmati study tour bersama.

Aku pun langsung berfikir, bagaimana cara mengatasi hal ini? Tidak mungkin, aku hanya menerima keadaan ini. Setelah perjuanganku, agar tidak sendiri. Ketika, acara study tour dimulai, mesti kandas. Hanya karena hal ini.

Aku menjawab “Ngak bisa gitu, dong! Gw uda beberapa bulan ini, usaha mendekati Lily hanya untuk study tour ini. Dan elu, tiba-tiba datang, ganti rencana sepihak.

Aku mulai menunjukan reaksi penolakan kepada Diana.

Dan aku mengatakan lagi. “Gw sudah atur, seat lu dengan pacar lu. Dan gw sudah, memenuhi kesepakatan kita. Terlepas dari Ryan bisa ikut atau tidak. Sekarang gw tagih janji lu, untuk mencomblangi gw dengan Lily”.

Dan setelah perdebatan yang cukup panjang, kami pun sepakat untuk pergi study tour. Dan Aling tetap bantuin gw, untuk mendapatkan Lily.

.

.

.

Study tour dimulai….

Sampai tiba waktunya untuk pergi study tour.

Destinasi study tour kami kali ini, adalah Danau Toba dan Kota Medan, Sumatera Utara.

Perjalanan menuju Danau Toba, ditempuh menggunakan Bus Pariwisata memakan waktu 12 jam perjalanan dari kotaku.

Aku berpamitan kepada orang tua ku, lalu aku berjalan mencari angkot yang akan membawaku ke sekolah.

Sesampainya di sekolah. Aku berkumpul dengan teman-temanku yang sudah siap untuk berangkat.

Aku cari bus yang akan membawaku.

“Ah, itu dia busnya!” gumamku.

Aku segera naik, dan kutemukan Aling juga sudah duduk menunggu keberangkatan.

Aku datang dan hendak menggodanya.

“Eh, sui cabo cekailang nia ho, esai ce kak lu bo? (Eh, cewek cantik, sendirian aja. Boleh duduk bareng kamu ga?)”

Aling hanya tersenyum dan diam.

Aku langsung duduk di sebelahnya, tanpa ada persetujuan darinya. Karena aku tau, dia bakalan sendirian, karena pacarnya, tidak dijiinkan ikut.

Selang beberapa lama, Lily pun tiba dengan Vero.

Mereka sudah janjian untuk duduk bareng, jadi membuatku harus menemani Aling.

Aku menarik diri sejenak, untuk merokok. Sebelum nantinya, aku harus puasa bernafas selama 12 jam atau istilahku tidak merokok selama 12 jam.

Aku berjalan keluar bus, menuju warung Bu De. Warung yang biasa dijadikan tempat nongkrong teman-temanku.

“Bu De, minta S Mild yang kecil aja, ya.” ucapku pada pemilik warung.

Aku harus irit, soalnya untuk modal jajan, ntar di Medan. Malu, dong. Kalo belum berangkat, udah kere duluan.

“Oiy, Pheng!” seru Cinthunks sahabatku,dia memiliki Nama asli 陈天龙(chen tian long) yang berarti naga langit seorang keturunan sama seperti aku dan aling, yang membedakan adalah cinthunks memiliki Ibu yang Sukunya Batak sehingga memiliki warna kulit yang eksotis, sehingga dia minder dan berusaha untuk menyamarkan namanya menjadi Cinthunks, padahal Ayah nya sengaja tidak memberinya Nama Lokal agar dia tidak lupa akan Tradisi Tiong Hua yang mengalir dalam dirinya.

“Oiy, ‘thunks” seruku membalas sapaannya.

“Ntar lu, duduk sama gw, kan? Gw udah standby kan smoking room dan contreau yang sudah di oplos dengan cola. Dan gw masukin ke gelas tupperware emak gw, buat kita habiskan, sepanjang perjalanan.” ajaknya padaku.

“thunks, sorry nih! Gw duduk sama Aling. Lumayan, ada yang bisa dipeluk selama perjalanan. Daripada gw meluk elu, mending gw meluk cewek. Sorry ya, gw tinggal dulu. Sebentar lagi, udah mau berangkat, tuh! jawabku pada Cinthunks

Waktu menunjukan pukul 16.00 wib dan terdengar lantang suara dari pengeras suara, berisikan pengumuman dari Wakil Kepala Sekolah sekaligus guru pembina yang bertanggung jawab acara study tour ini.

“Anak-anak kelas 2, harap segera masuk ke bus masing-masing. Karena sebentar lagi, kita akan berangkat.” teriak Ibu Gadis selaku wakil kepala sekolah dan guru pembina yang bertangung jawab melalui TOA.

Aku kembali ke bus di mana Aling telah menungguku.

Kutemukan Aling dan Lily dan Vero sedang tertawa bahagia.

Tetapi kedatanganku, membuat mereka menjadi diam.

“Pasti ada sesuatu, yang mereka sembunyikan dariku.” pikirku.

Bus mulai bergerak dan akan membawa kami ke Danau Toba, Danau Kaldera terbesar di dunia.

Aku masih cangung duduk di sebelah Aling.

“Ngomongin apa aja tadi Ling, pas gw pergi merokok? Kok, kayaknya seru banget. Ngomongin aku, ya?” ucapku memulai obrolan kami, sekaligus untuk mencairkan suasana.

“Nggak tuh. Ge-eR banget lu! Lu kira, elu selebritis, apaan di gosipin?” sahutnya ketus.

Namun, aku terus saja mengajaknya ngobrol, berusaha agar obrolan kami berdua, bisa nyambung dan Aling bisa membuka dirinya terhadapku.

Aku terus menceritakan impian-impian, yang ingin kucapai, dimasa yang akan datang.

Dan sepertinya, aku memilih topik yang tepat dan terjadi kecocokan dan obrolan kami semakin seru.

Lalu tanpa aku sadari, aku salah memilih topik pembicaraan. Aku malah membahas tentang pacarnya, yang tidak diijinkan ikut.

Tiba-tiba….

Mendadak ekspresinya berubah menjadi datar, dan ia mengacuhkanku. Aling memasang earphone dan bilang. “Aku ngantuk, kalau sudah sampai, tolong di bangunkan!”

Seketika, Aling sudah terlelap tidur dan aku tidak tau harus melakukan apa? Dan memilih untuk tidur juga.

Entah, sudah berapa lama? Aku terlelap tidur.

Tiba-tiba….

Aku merasa, ada seseorang yang mengoyang-goyangkan tubuhku.

Dan ternyata, Aling-lah yang tadi membangunkanku. Ia berkata. “Apheng, aku kedinginan.”

Ternyata, walaupun memakai jaket. Tetap saja, tidak sanggup menghangatkan tubuh Aling.

Lantas, aku berdiri dan berjalan ke depan, ke arah pengemudi bus ini.

“Bang. Tolong kecilkan AC-nya, Bang!” seruku memberitahu. “Dingin banget, udah dua lapis jaket kupakai masih tetap aja, aku kedinginan.”

Aku lihat di bajunya bertuliskan nama Adit.

“Eh, kayak nama tokoh pemeran utama pria dicerita Pelarian Cinta karyanya suhu rad76.” gumamku tertawa dalam hati.

“Bang Adit! seruku sekali lagi memberitahu. “AC-nya kecilin, dong!”

“Bah, kau tau namaku.” sahutnya sambil terus fokus mengendarai bus ini.

“Di bajumu itu, ada namanya Bang!” sahutku menjawab.

“Hahaha….” tawanya terbahak-bahak.

“Bah… Itu tombolnya!” ujarnya memberitahu. “Kau putar aja ke kiri.”

Dan aku pun melakukan, sesuai dengan instruksi Bang Adit. Dan seketika, AC-nya malah mati.

“Bang..!” seruku bingung. “Kok, mati AC-nya!”

“Berarti, dah paling kecillah AC-nya itu!” sahut Bang Adit dengan logat Bataknya.

“Terima kasih la Bang, kalau begitu.” ucapku ramah.

Aku berjalan kembali ke tempat dudukku.

Aku melihat, Aling mengigil kedinginan.

Kemudian….

Spontan, aku melepas jaket yang kupakai. Dan memberikannya pada Aling.

“Nih, coba pakai jaketku!” seruku peduli. “Aku ga dingin kok, lu yang pakai aja.”

“Yakin nih, lu ga dingin?” tanyany padaku.

“Nanti, kalau aku kedinginan, aku bisa ke smoking room.” jawabku memberitahu. “Ada Cinthunks di sana!”

Aling memakai jaketku dan duduk lebih dekat padaku.

Dan, kami berdua mulai terlelap kembali.

Aku merasa, ada yang membangunkanku lagi.

Kubuka mataku dan Aling berbisik. “Aku masih kedinginan, Pheng.”

“Bagaimana, kalau elu? Tiduran di paha gw, ntar gw melukin elu dari atas. Mungkin bisa bikin lu lebih hangat.” ucapku menawarkan diri padanya.

Aling tampak ragu ragu.

Namun, sesaat kemudian ia menjawab. “Oke, tapi lu, jangan macam-macam ya! Gw mau, karena gw kedinginan aja, tau.”

Aling mulai tidur di pangkuanku, dan aku pun memeluknya dari atas.

“Awas..! Jangan macam-macam, serunya memperingatiku.

“Apa yang mau disentuh? Jaket udah tiga lapis gini! Apa yang tersisa untuk di sentuh lagi?” sahutku padanya.

“Masih kedinginan?” sambungku bertanya.

“Lumayan, hangat.” jawabnya singkat dan ia pun terlelap dalam pangkuanku.

Entah, berapa lama, kami terlelap? Dan, aku terbangun karena sinar mentari yang masuk menembus kaca bus yang kami tumpangi.

Kurasakan kebas di kakiku.

Mungkin, karena aling, yang menjadikan pahaku sebagai bantalnya. Sehingga aliran darah ke ujung kaki menjadi terhambat.

Kulihat jam di tanganku menunjukan pukul 06.00 wib. Berarti sesaat lagi, kami akan sampai ke tujuan.

Kucoba mengoyang-goyangkan tubuh Aling. Kugoyang-goyangkan kepalanya, hingga tak sengaja, kepalanya membentur tiang kejantananku, yang sedang upacara bendera di pagi.

Dan, Aling akhirnya terbangun juga dan membuka matanya tepat di hadapan sebuah gumpalan keras di celanaku.

“Ih…! Apaan nih?” serunya kaget. “Dasar mesum.”

Aling mencubit perutku. pagi-pagi aku sudah mendapatka sarapan berupa siksaan dari mahluk cantik di sampingku.

. bersambung….